oleh Sukorini
Al-imaanu yaziidu wa yanqushu.
Iman itu bertambah dan berkurang. Artinya kadang-kadang meningkat dan pada saat yang lain menurun. Perihal naik dan turunnya iman itu pasti ada sebab atau kejadian yang mengirinya. Iman dapat meningkat misalnya ketika kita berkutat mempelajari ilmu agama (tafaquh fiddiin), berkhidmat pada pelayanan sosial, bergabung dalam barisan dakwah dan lain-lain. Demikian pula ketika ia turun, bisa jadi disebabkan oleh karena perilaku maksiat, menuruti hawa nafsu, malas, dzolim pada diri sendiri, menyia-nyiakan waktu, dan sebagainya.
Salah satu hal penting yang perlu dicatat adaah naik turunnya iman akan berimbas pada kedirian kita. Kebangkitan diri atau proses perbaikan diri kita. Maksudnya ketika iman kita ’yaziid’ maka dimungkinkan proses perbaikan diri kita meningkat atau minimal berlanjut. Atau bahkan dalam kondisi tertentu mengalami kebangkitan yang luar biasa. Sebaliknya ketika iman kita ’yanqush’ maka dimungkinkan tidak ada proses perbaikan diri sampai kemudian kita sadar lalu berusaha untuk meningkatkannya kembali.
Ketika kita paham bahwa iman itu ’yaziidu wa yanqushu’ maka orang-orang yang beriman yang bersemangat dalam perbaikan dirinya akan berusaha untuk senantias pada posisi ’yaziid’. Oleh karena itu mereka akan berusaha mengkondisikan dirinya agar selalu dalam nuansa perbaikan dan kebangkitan dirinya.
Kalau kita merasa biasa-biasa saja dalam tarbiyah atau merasa ’begini-begini saja’ atau bahkan merasa stagnan maka pada saat itulah kita perlu mencari momentum kebangkitan kita. Bisa jadi banyak momen kebangkitan yang dapat kita jadikan ’batu loncatan’ yang dapat berdampak besar tetapi mungkin kita mamu mengolahnya sehingga terlewatkan sebagai sebuah kejadian biasa. Banyak orang yang mendapat hidayah diawali dari hal-hal yang dianggap kecil di sekitarnya.
Atau kita itu merasa biasa-biasa saja karena kita kurang bisa menciptakan atau merekayasa momen kebangkitan itu sendiri. Ibarat hanya berpangku tangan menunggu peluang. Lalu bagaimana jika peluang yang ditunggu tidak datang-datang? Salah satu langkah terbaik jika tidakada peluang adalah berusaha untuk menciptakannya.
Bukan hanya menunggu peluang karena terkadang peluang tidak muncul dengan sendirinya, tetapi harus diciptakan. Create your opportunities! Memang ini bukan hal sederhana. Salah satu kuncinya adalah tekad yang besar untuk maju karena kesungguhan dalam mencapai yang kita perjuangkan akan sebanding dengan apa yang kita peroleh. Yakinlah bahwa usaha kita tidak akan sia-sia, pasti ada jalan keluar dan hasilnya. Allah SWT berfirman: ” dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di (jalan) Kami, sungguh-sungguh akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami...” (QS. Al-Ankabut: 29).
Beberapa ibrah yang bisa kita ambil misalnya ketika kita mencermati perjalanan hidup sahabat rasul Salman Al-Farisi. Beliau terkenal sebagai pemikir cerdas pada perang Khandaq. Pada masa mudanya beliau seorang pangeran kaya raya pewaris tahta. Tapi ketika beliau masih belum puas dengan kehidupannya, masih merasa belum menemukan ketenangan dan kebahagiaan, beliau bertekad untuk mencarinya meskipun harus rela meninggalkan semua harta, benda, pangkat dan kedudukan yang telah diraihnya.
Itulah sebuah pilihan momentum kehidupan yang diplihnya sebagai langkah awal menuju kebangkitan dirinya. Dari pilihan momentum itulah beliau menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Kesengsaraan demi kesengsraan dihadapi dengan tabah. Perubahan status sosial yang luar biasa drastis, dari seorang pangeran terhormat yang tidak pernah kekurangan menjadi seorang budak belian yang harus melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar.
Di balik semua itu memang Allah SWT mempunyai cara tersendiri untuk menguji kesungguhan hambanya dengan berbagai kesengsaraan, penderitaan untuk membuktikan kebenaran keimanan kita. ”....dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
Read More..
Kamis, 02 Oktober 2008
Kamis, 25 September 2008
Kegelisahanku
oleh Azizah_hanifah
Setiap aku bangun pagi hari setiap Senin, aku selalu berada dalam kegelisahan. Dalam benakku selalu timbul pikiran, apa yang bisa kukerjakan hari ini, yang bermanfaat dan menghasilkan bagi diriku, bisakah setiap detik yang akan kulalui bermanfaat dan bernilai ibadah disisi Rabbku? Aku hanya bisa berucap Laahhaulawala quwwata illa billah hill’aliyyil’azim.
Telah hampir 9 bulan ini aku jadi pengacara (pengangguran gak banyak acara). Aku keluar dari kerjaan sebelumnya setelah bulan-bulan terkahir aku merasa tidak betah lagi dengan suasana kantor, membawaku ke arah pribadi yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Setelah itu hampir setiap minggu aku mulai lagi mengirimkan lamaran-lamaran kerja.
Dua-tiga bulan pertama aku merasakan bosan, jenuh karena tidak ada kegiatan, banyak tidur. Selama aku tidak bekerja ini, aku dibiayai oleh abang, ini sangat kusyukuri karena aku tidak perlu lagi membebani kedua orang tuaku dengan kondisiku.
Tidak ada satupun dari lamaran yang kukirimkan memanggilku untuk tes apakah interviw ataupun tertulis. Aku mencoba bersabar dan tetap mengirimkan lamaran. Di dalam hati setiap kali menuliskan lamaran aku mulai berpikir, kenapa belum ada panggilan, apakah karena usiaku yang memang telah lewat dari 27 tahun? Aku sedih, kecewa, keputusaan, stres, tidak berguna.
Aku merasakan berada pada titik terendah dalam kehidupanku. Pada saat itulah aku teringat abang, sahabat-sahabatku dan orang-orang yang sedang bekerja pada detik tersebut. Mereka berjuang untuk menghidupi diri sendiri dan juga untuk keluarganya sehingga pada saatnya nanti Allah meminta pertanggungjawaban terhadap usia mereka dan dihabiskan untuk apa saja, mereka telah mempunyai jawabannya dan Insya Allah bernilai ibadah disisiNya, sementara aku? Aku tersentak, bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua waktuku?
Ya Allah yang Maha Mengetahui, selama ini waktuku banyak terbuang begitu saja, jika sedih, stres aku terbiasa larut dengan tidur sebanyak yang aku mau. Aku berada dalam ketakutan terhadap pertanggungjawaban dan timbangan amalku kelak. Alangkah beruntungnya mereka yang bekerja, begitulah pikirku. Aku mulai berdoa agar setiap detik yang kulewatkan bermakna dan bernilai ibadah disisi Allah.
Alhamdulillah, setelah tiga bulan lebih mengganggur, ada panggilan training dari sebuah universitas dikotaku. Training untuk menambah kemampuan untuk menghadapi dunia kerja yaitu Retooling yang diadakan oleh Dikti, dan diadakan selama tiga bulan secara gratis. Aku mulai mengikuti training ini dengan tujuan menambah ilmu, teman dan juga waktu yang kulewatkan jadi lebih bernilai. Aku mulai tenang dan mulai menjalani hari-hari training.
Menjelang masa training akan habis, aku mulai lagi berada dalam kegelisahan dan ketakutan. Apa yang akan kuperbuat setelah training ini habis? Sementara lamaran kerja yang kukirimkan belum juga ada panggilan untukku? Bagaimana hari-hariku selanjutnya? Apakah waktuku akan kembali tersia-siakan? Berada dalam kegelisahan dan ketakutan yang menghantuiku, membawaku untuk selalu beristigfar dalam setiap keadaan yang diingatkan Allah.
Dalam hatiku timbul dorongan untuk mulai melakukan shalat tahajud secara rutin dan alhamdulillah, seakan ada yang menggerakkanku, pada malam hari terakhir training aku mulai melakukan shalat tahajud. Keesokkan harinya kurasakan kegembiraan dan kecerahan dalan hatiku, aku tidak tau pasti kenapa. Namun aku melanjutkan shalat tahajudku malam-malam berikutnya.
Alhamdulillah, sejak saat itu, seakan ada yang menuntunku untuk belajar dan belajar apa saja. Aku membaca berbagai buku, silahturahmi ke teman, browsing ke internet, belajar bahasa Inggris. Kurasakan kekurangan waktu karena banyak hal yang belum kukuasai. Walaupun masih belum ada panggilan kerja, aku tetap mengirimkan lamaran sementara aku juga menambah wawasan diriku.
Pikiran dan sangkaanku juga kuubah, yang tadinya setiap menuliskan lamaran aku berpikir apakah masih ada lowongan buatku sesuai kemampuanku, masih maukah perusahaan menerima orang yang di atas 27 tahun dan sebagainya, aku ubah menjadi Allah akan memberikanku pekerjaan sesuai yang kuinginkan.
Allah melihatku dan tidak akan menyia-nyiakan kerja keras hambaNya. Dan tidak gelisah lagi... karena kupercayakan setiap langkahku, setiap yang akan kulakukan pada Allah untuk menuntunku..Kupasrahkan padaNya. Ya Allah, jangan pernah tinggalkan aku, walau aku dalam kondisi apapun. Ammiin..
Read More..
Setiap aku bangun pagi hari setiap Senin, aku selalu berada dalam kegelisahan. Dalam benakku selalu timbul pikiran, apa yang bisa kukerjakan hari ini, yang bermanfaat dan menghasilkan bagi diriku, bisakah setiap detik yang akan kulalui bermanfaat dan bernilai ibadah disisi Rabbku? Aku hanya bisa berucap Laahhaulawala quwwata illa billah hill’aliyyil’azim.
Telah hampir 9 bulan ini aku jadi pengacara (pengangguran gak banyak acara). Aku keluar dari kerjaan sebelumnya setelah bulan-bulan terkahir aku merasa tidak betah lagi dengan suasana kantor, membawaku ke arah pribadi yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Setelah itu hampir setiap minggu aku mulai lagi mengirimkan lamaran-lamaran kerja.
Dua-tiga bulan pertama aku merasakan bosan, jenuh karena tidak ada kegiatan, banyak tidur. Selama aku tidak bekerja ini, aku dibiayai oleh abang, ini sangat kusyukuri karena aku tidak perlu lagi membebani kedua orang tuaku dengan kondisiku.
Tidak ada satupun dari lamaran yang kukirimkan memanggilku untuk tes apakah interviw ataupun tertulis. Aku mencoba bersabar dan tetap mengirimkan lamaran. Di dalam hati setiap kali menuliskan lamaran aku mulai berpikir, kenapa belum ada panggilan, apakah karena usiaku yang memang telah lewat dari 27 tahun? Aku sedih, kecewa, keputusaan, stres, tidak berguna.
Aku merasakan berada pada titik terendah dalam kehidupanku. Pada saat itulah aku teringat abang, sahabat-sahabatku dan orang-orang yang sedang bekerja pada detik tersebut. Mereka berjuang untuk menghidupi diri sendiri dan juga untuk keluarganya sehingga pada saatnya nanti Allah meminta pertanggungjawaban terhadap usia mereka dan dihabiskan untuk apa saja, mereka telah mempunyai jawabannya dan Insya Allah bernilai ibadah disisiNya, sementara aku? Aku tersentak, bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan semua waktuku?
Ya Allah yang Maha Mengetahui, selama ini waktuku banyak terbuang begitu saja, jika sedih, stres aku terbiasa larut dengan tidur sebanyak yang aku mau. Aku berada dalam ketakutan terhadap pertanggungjawaban dan timbangan amalku kelak. Alangkah beruntungnya mereka yang bekerja, begitulah pikirku. Aku mulai berdoa agar setiap detik yang kulewatkan bermakna dan bernilai ibadah disisi Allah.
Alhamdulillah, setelah tiga bulan lebih mengganggur, ada panggilan training dari sebuah universitas dikotaku. Training untuk menambah kemampuan untuk menghadapi dunia kerja yaitu Retooling yang diadakan oleh Dikti, dan diadakan selama tiga bulan secara gratis. Aku mulai mengikuti training ini dengan tujuan menambah ilmu, teman dan juga waktu yang kulewatkan jadi lebih bernilai. Aku mulai tenang dan mulai menjalani hari-hari training.
Menjelang masa training akan habis, aku mulai lagi berada dalam kegelisahan dan ketakutan. Apa yang akan kuperbuat setelah training ini habis? Sementara lamaran kerja yang kukirimkan belum juga ada panggilan untukku? Bagaimana hari-hariku selanjutnya? Apakah waktuku akan kembali tersia-siakan? Berada dalam kegelisahan dan ketakutan yang menghantuiku, membawaku untuk selalu beristigfar dalam setiap keadaan yang diingatkan Allah.
Dalam hatiku timbul dorongan untuk mulai melakukan shalat tahajud secara rutin dan alhamdulillah, seakan ada yang menggerakkanku, pada malam hari terakhir training aku mulai melakukan shalat tahajud. Keesokkan harinya kurasakan kegembiraan dan kecerahan dalan hatiku, aku tidak tau pasti kenapa. Namun aku melanjutkan shalat tahajudku malam-malam berikutnya.
Alhamdulillah, sejak saat itu, seakan ada yang menuntunku untuk belajar dan belajar apa saja. Aku membaca berbagai buku, silahturahmi ke teman, browsing ke internet, belajar bahasa Inggris. Kurasakan kekurangan waktu karena banyak hal yang belum kukuasai. Walaupun masih belum ada panggilan kerja, aku tetap mengirimkan lamaran sementara aku juga menambah wawasan diriku.
Pikiran dan sangkaanku juga kuubah, yang tadinya setiap menuliskan lamaran aku berpikir apakah masih ada lowongan buatku sesuai kemampuanku, masih maukah perusahaan menerima orang yang di atas 27 tahun dan sebagainya, aku ubah menjadi Allah akan memberikanku pekerjaan sesuai yang kuinginkan.
Allah melihatku dan tidak akan menyia-nyiakan kerja keras hambaNya. Dan tidak gelisah lagi... karena kupercayakan setiap langkahku, setiap yang akan kulakukan pada Allah untuk menuntunku..Kupasrahkan padaNya. Ya Allah, jangan pernah tinggalkan aku, walau aku dalam kondisi apapun. Ammiin..
Read More..
Langganan:
Komentar (Atom)